Translate

Senin, 12 November 2012

Glukosa dari Daun Sirsak sebagai Obat Kanker


Risky Patria Sari


PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Akhir-akhir ini penyakit kanker di Indonesia semakin meningkat sangat pesat. Banyak faktor yang dapat memicu kanker dalam diri manusia. Misalnya faktor genetik, faktor efek samping pemakaian makanan atau kosmetik yang mengandung zat-zat kimia penyebab kanker. Dengan menghindari faktor-faktor yang menjadi penyebab merupakan salah satu upaya mencegah penyakit kanker, namun hal ini belum dapat dilakukan secara sempurna, mengingat adanya faktor penyebabnya begitu rumit dan kompleks.
Oleh karena faktor-faktor di atas maka strategi penanggulangan penyakit kanker lebih ditekankan pada upaya deteksi kanker dini dan diikuti dengan pengobatan sedini mungkin. Bahkan sampai saat ini terdapat berbagai macam penyakit kanker, seperti kanker serviks uteri, kanker payudara, kanker kulit, kanker nasofaring, limfoma, kanker kolon dan rektum, kanker paru, kanker ovarium, kanker kelenjar tiroid, dan kanker rongga mulut.
Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik di dunia maupun di Indonesia. Di dunia, 12% (tunjukkan sumber dari mana)  seluruh kematian disebabkan oleh kanker dan  pembunuh  nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular.spasiPada umumnya pengobatan medis maupun nonmedis hanya menghambat berkembangbiaknya sel kanker.
WHO dan Bank Dunia, 2005 (ada data yang palin akhir tidak) memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030. Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di negara miskin dan berkembang. Di Indonesia prevalensi tumor/kanker adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB (tubercle bacillus), hipertensi, cedera, perinatal, dan DM (diabetis mellitus) (Kemnkes RI, 2007).
Glukosa adalah sejenis gula yang termasuk monosakarida dengan rumus molekul C6H12O6. Glukosa digunakan pada bermacam-macam industri makanan dan minuman seperti industri roti, industri kembang gula, pengawetan makanan, industri minuman segar, industri es krim, dan lain sebagainya. Di bidang farmasi glukosa digunakan untuk obat terutama obat-obatan bayi dan anak-anak.
Glukosa dapat diperoleh dari berbagai macam selulosa tanaman melalui proses hidrolisis. Proses hidrolisis dilakukan karena dalam tubuh selulosa tidak dapat dicerna. Tubuh manusia tidak dapat memproduksi enzim yang digunakan untuk menguraikan selulosa. Tetapi ternyata polisakarida dapat dimanfaatkan, di mana dengan menggunakan asam encer tidak dapat dihidrolisis, tetapi oleh asam dengan konsentrasi tinggi yaitu secara kimiawi menggunakan HCl 30% dapat terhidrolisis menjadi D-glukosa (Poedjiadi, 1994). Hidrolisis dengan menggunakan senyawa kimia memunculkan masalah baru yaitu sifat korosif dari bahan penghidrolisis yaitu asam kuat. Karena glukosa merupakan bahan yang dikonsumsi, maka digunakan proses yang aman yaitu hidrolisis secara enzimatis.
Beberapa alkaloid seperti kolkisin, podofilotoksin, vinkristin, dan viblastin dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan, dapat digunakan sebagai obat antikanker dengan melakukan pemblokan terhadap pembelahan sel yaitu pada tahap metafase. Dari beberapa alkaloid tersebut yang paling banyak digunakan adalah vinkristin dan vinblastin (Mulyadi, 1996).

Tujuan
Gagasan tertulis ini bertujuan untuk memberikan solusi pemanfaatan daun sirsak untuk menjadi glukosa sebagai obat kanker. Daun sirsak tersebut dapat diolah menjadi produk yaitu glukosa. Glukosa yang dihasilkan mengandung zat acetogenins annonaceous yang terkandung di dalam daun sirsak yang memiliki manfaat sebagai obat kanker.
 Kandungan acetogenins dalam daun sirsak ini secara umum telah diketahui sebagai antitumorous, antiparasit, insektisida, dan antimikroba. Acetogenins adalah penghambat yang luar biasa dari proses enzim yang hanya ditemukan dalam membran sel tumor kanker. Inilah sebabnya mereka adalah racun bagi sel-sel kanker tetapi tidak memiliki toksisitas pada sel sehat.

TELAAH PUSTAKA

Daun Sirsak
Salah satu tanaman yang memiliki  senyawa yang dapat  digunakan sebagai pestisida nabati yaitu sirsak.  Bagian dari  tanaman sirsak  yang digunakan adalah  daun dan biji. Daun sirsak  mengandung senyawa kimia acetogenin antara lain asimisin, bulatacin, dan squamosin. Daun sirsak mengandung senyawa acetoginin,  antara  lain asimisin, bulatacin  dan  squamosin. (ditulis dua kali, jadi dihapus saja). Beberapa kelompok peneliti telah memverifikasi bahwa bahan kimia ini menampilkan sifat yang luar biasa sebagai antitumor dan selektif terhadap berbagai jenis sel kanker, tetapi tidak membahayakan sel-sel sehat. Banyak acetogenins telah menunjukkan toksisitas selektif untuk sel tumor pada dosis sangat rendah, hanya dengan 1 bagian per juta (Mulyaman, dkk. 2000).
Selain untuk hal yang telah disebutkan di atas daun sirsak juga dapat digunakan untuk obat sakit pinggang atau bisul, karena mengandung unsur senyawa tanin, fitosterol, Ca-oksalat, dan alkaloid murisine (Thomas, 1994).

Selulosa
Selulosa merupakan senyawa organik yang paling banyak terdapat di bumi. Diperkirakan sekitar 1011 ton selulosa dibiosintesis tiap tahun dan mencakup 50% dari jumlah karbohidrat tak bebas di bumi. Daun kering mengandung 10-20% selulosa, kayu mengandung 50% selulosa, dan kapas mengandung 90% selulosa. Molekul tunggal selulosa merupakan polimer lurus 1,4’-β-D-glukosa. Hidrolisis lengkap dalam HCl 40% dalam air, hanya menghasilkan D-glukosa. Disakarida dari hasil hidrolisis selulosa yang terisolasi adalah selobiosa, yang dapat dihidrolisis lengkap menjadi glukosa. Selulosa adalah polimer organik yang paling banyak terdapat di alam. Selulosa tersusun dari ribuan D-glukosa yang dihubungkan dengan ikatan 1,4-β-glikosida. Selulosa memiliki struktur linier. Dalam hidrolisis, selulosa diubah menjadi selubiosa dan kemudian menjadi glukosa (Sarker, 2007).
Selulosa sebagai polimer β-glukosa dengan ikatan β-1- 4 di antara satuan glukosanya. Kalimat ini dihapus saja karean sudah ditulis pada paragraf sebelumnya. Selulosa berfungsi sebagai bahan struktur dalam jaringan tumbuhan dalam bentuk campuran polimer homolog dan biasanya disertai polisakarida lain dan lignin dalam jumlah yang beragam. Selulosa yang merupakan polisakarida terbanyak di bumi dapat diubah menjadi glukosa dengan cara hidrolisis asam (Groggins,1985).

Glukosa
Glukosa, suatu gula mono sakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180,18) adalah heksosa sebagai monosakarida yang mengandung enam atom C. Glukosa merupakan aldehid (mengandung gugus -CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut "cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0,0026% pada pH 7 (Winarno, 1984).

Enzim Selulase (Aspergillus niger dan Trichoderma reseei)
Selulase  dapat  diproduksi  dari  berbagai  jenis  karbohidrat,  baik  sereal  (Hao  dkk.,  2006), limbah  berlignoselulosa    (Muthuvelayudham  dan  Viruthagiri,  2006;  Milala  dkk.,  2005;  Dewi,  2002; Dahot  dan  Noomrio,  1996).  Muthuvelayudham  dan  Viruthagiri  (2006)  melaporkan  bahwa Trichoderma  reesei  QM9414  tumbuh  baik  pada  glukosa,  xilosa,  laktosa,  selulosa,  bagas  tebu  dan jerami  padi,  sedangkan  Trichoderma  reesei  97.177  tidak  tumbuh  pada  jerami  padi  dan  Trichoderma reesei Tm3 tidak tumbuh dalam bagas tebu. Milala dkk. (2005) melaporkan bahwa aktifitas tertinggi pada  produksi  selulase  menggunakan  Aspergillus  niger  dari  limbah  pertanian  (jerami  jagung,  sekam padi, millet dan guinea corn straw) diperoleh dari jerami pohon jagung yaitu 102 IU/mL.jam. Komposisi selulase yang dihasilkan dipengaruhi oleh komposisi, konsentrasi , pH awal dan pengolahan  awal  substrat  serta  temperatur  inkubasi.  Milala  dkk.  (2003)  melaporkan  bahwa  kenaikan konsentrasi  substrat  sampai  5%  menghasilkan  kenaikan  aktifitas  enzim.  Liu  dan  Yang  (2007) melaporkan bahwa aktifitas maksimum diperoleh pada pH awal 5,0 dan temperatur inkubasi 30°C. 
Sebuah review tentang selulase yang ditulis oleh Bhat dan Bhat (1977) menjelaskan proses pembentukan selulase dan inducer untuk aktifitas selulase. Semua mikroorganisme penghasil selulase tinggi,  memproduksi  selulase  dengan  baik  jika  ditumbuhkan  pada  selulosa.  Penggunaan  sumber karbon  yang  larut  seperti  laktosa,  selobiosa  dan  hidrolisat  selulosa  untuk  produksi  selulase memungkinkan produktivitas yang tinggi tetapi aktifitas enzimnya kurang, sedangkan sumber karbon yang  sukar  dirombak,  produktivitasnya  rendah  tetapi  aktifitas  enzimnya  tinggi  (Chen  dan  Wayman, 1992).  Busto  dkk.  (1996)  melaporkan  bahwa selulosa amorf menginduksi sintesis endoglukanase dalam  Trichoderma  reesei  lebih  baik  dibandingkan  dengan  selobiosa,  laktosa,  sukrosa  dan  selulosa lainnya. Sebaliknya, kesemua karbohidrat tersebut tidak dapat menginduksi endo-β-1,4-glukanase dalam Aspergillus niger secara signifikan. Pada waktu digunakan substrat CMC (karboksimetilselulosa), aktifitas maksimum diperoleh pada rentang pH 4,5–5,5 dan temperatur optimum antara 50–70°C.

Hidrolisis Enzimatis
Hidrolisis  meliputi  proses  pemecahan  polisakarida  di  dalam  biomassa  lignoselulosa, yaitu:  selulosa  dan  hemiselulosa  menjadi  monomer  gula  penyusunnya.  Hidrolisis  sempurna selulosa menghasilkan  glukosa,  sedangkan  hemiselulosa  menghasilkan  beberapa  monomer gula  pentose  (C5)  dan  heksosa  (C6).  Hidrolisis  dapat  dilakukan  secara  kimia  (asam)  atau enzimatik.
Aplikasi hidrolisis menggunakan enzim secara sederhana dilakukan dengan menganti tahap hidrolisis asam dengan tahap hidrolisis enzim selulosa. Trichoderma reseii adalah fungi yang menghasilkan enzim selulase dan dapat menghidrolisis selulosa (Hamelinck, dkk,  2005).  Hidrolisis  enzimatis  memiliki  beberapa  keuntungan  dibandingkan  hidrolisis asam, antara lain: tidak terjadi degradasi gula hasil hidrolisis, kondisi proses yang lebih lunak (suhu  rendah,  pH  netral),  berpotensi  memberikan  hasil  yang  tinggi,  dan  biaya  pemeliharaan peralatan  relatif  rendah  karena  tidak  ada  bahan  yang  korosif  (Taherzadeh  dan  Karimi,  2007).  Proses  enzimatis  merupakan  proses  ramah lingkungan  berbahan  baku  terbarukan  (renewable  raw  material). Oleh  karena  itu,  hidrolisis limbah  pertanian  dapat  memberikan  nilai  tambah  bagi  petani  karena  prosesnya  ekonomis. Saat  ini,  hidrolisa  enzimatis  merupakan  teknologi  yang  sangat  menjanjikan  guna mengkonversi biomassa menjadi gula. Produk dari pemecahan selulosa oleh enzim endoglukonase menjadi substrat bagi enzim cellobiohydrolase, dan produk hasil pemecahan enzim  cellobiohydrolase, yaitu selobiosa, menjadi substrat bagi enzim β-glukosidase. Keberhasilan hidrolisis selulosa menggunakan enzim atau mikrobia sangat ditentukan oleh: derajat kristalin selulosa, komposisi enzim selulase, luas permukaan kontak, rasio antara inokulum dengan substrat, dan kemurnian substrat. Menurut Sarkar (2004), lignoselulosa dengan derajat kristalin tinggi lebih sulit untuk didegradasi dibandingkan struktur amorphous. Penggilingan selulosa dapat menaikkan laju degradasi karena menurunkan derajat kristalin dan memperluas permukaan kontak selulosa–enzim.
 
METODE PENULISAN

Penulisan gagasan pemanfaatan daun sirsak untuk menghasilkan glukosa yang dapat dimanfaatkan sebagai obat kanker ini  didasari dari data-data mengenai pemanfaatan daun sirsak yang begitu banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal. (tunjukkan beberapa jurnal tentang ini, kalau bisa) Apalagi pemanfaatan zat kimia yang mengandung zat anti kanker. Berdasarkan data tersebut maka dibuat solusi untuk pemanfaatan daun sirsak ini untuk mengatasi ataupun mengobati penyakit berbahaya tersebut juga sebagai sumber glukosa.
Perumusan solusi untuk mengatasi masalah ini diperoleh dari berbagai literatur seperti buku, jurnal dan skripsi sehingga memberikan gambaran yang mendukung tentang pemanfaatan daun sirsak. Berdasarkan gambaran dan informasi yang telah diperoleh kemudian dirancang suatu solusi tentang pemanfaatan daun sirsak menjadi produk yang memiliki nilai guna tinggi, yaitu glukosa. Setelah itu dilakukan diskusi dengan dosen terkait untuk memberikan masukan dan perbaikan pada solusi yang ditawarkan.
 

ANALISIS DAN SINTESIS

Analisis Permasalahan
Sirsak, nangka Belanda, atau durian Belanda (Annona muricata L.) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris (Madura), srikaya Jawa (Bali), deureuyanbelanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (Lampung ). Penyebutan "Belanda" dan variasinya menunjukkan bahwa sirsak (dari bahasa Belanda: zuurzak, berarti "kantung asam") didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ke Nusantara, yaitu pada abad ke-19, meskipun bukan berasal dari Eropa.
Kanker menjadi sesuatu yang menakutkan banyak orang di seluruh dunia hingga kini. Saat banyak penelitian dilakukan untuk menemukan obat kanker terbaik, buah sirsak ternyata menyimpan keunggulan ini. Beberapa waktu lalu (kapan), Taman Wisata Mekarsari mengadakan demo pengolahan daun sirsak yang diberikan secara gratis kepada pengunjung untuk ke-12 kalinya. Kegiatan bertujuan memberikan informasi bagaimana mengolah sirsak dengan baik untuk dijadikan obat alternatif membunuh sel kanker.
Hal ini telah diteliti di Laboratorium Health Sciences Institute, Amerika Serikat di bawah pengawasan the National Cancer Institute, Amerika Serikat bahwa daun sirsak diketahui mengandung zat annonaceous acetogenins yang mampu 10.000 kali lebih kuat membunuh sel-sel kanker daripada zat adriamycin, yang biasa dipakai dalam pengobatan kemoterapi. Zat acetogenins dapat membunuh aneka jenis kanker, seperti kanker usus, tiroid, prostat, paru-paru, payudara, dan pankreas bahkan penyakit ambeien tanpa merusak atau mengganggu sel-sel tubuh yang sehat.
Penelusuran Trubus, riset sirsak untuk kesehatan manusia telah dilakukan 70 tahun silam. Pada 1941 – 1962, para peneliti hanya menemukan khasiat sirsak, buah, daun, kulit batang, biji, dan akar sirsak sebagai antibakteri, anticendawan, dan antiparasit. Baru pada 1976 The National Cancer Institute meneliti khasiat sirsak sebagai antitumor dan antikanker. Diduga riset lama itulah yang mendorong McLaughlin menelitinya sebagai antikanker.
Acetogenins menghambat ATP (adenosina trifosfat). ATP sumber energi di dalam tubuh. Sel kanker membutuhkan banyak energi sehingga membutuhkan banyak ATP, Acetogenins masuk dan menempel di reseptor dinding sel dan merusak ATP di dinding mitokondria. Dampaknya produksi energi di dalam sel kanker pun berhenti dan akhirnya sel kanker mati. Ditemukan Acetogenins sangat selektif, hanya menyerang sel kanker yang memiliki kelebihan ATP. Senyawa itu tak menyerang sel-sel lain yang normal di dalam tubuh. Acetogenins mengganggu peredaran sel kanker dengan cara mengurangi jumlah ATP.
Pemanfaatan daun sirsak sebagai obat kanker selama ini hanya sebatas direbus dan dikeringkan. Dalam proses pengeringan maupun perebusan, panas yang diberikan pada daun kemungkinan akan merusak zat yang terkandung. Beberapa senyawa tidak tahan dengan pemanasan yang dilakukan secara kontinyu. Oleh karena itu, pengambilan senyawa anti kanker harus dilakukan pada suhu rendah untuk menghindari degradasi senyawa tersebut.
Proses hidrolisis secara enzimatis dapat dilakukan untuk mengekstrak acetogenins dalam daun sirsak. Proses hidrolisis enzimatis dioperasikan pada suhu rendah sehingga kemungkinan untuk degradasi acetogenins kecil. Selain dapat mengekstrak acetogenins, proses hidrolisis menghasilkan glukosa, sehingga dalam glukosa tersebut mengandung acetogenins. Glukosa hasil hidrolisis dapat digunakan menjadi obat kanker dan penyakit lain. Dengan proses ini, maka ditemukan obat yang memiliki rasa yang manis.

SintesisPemecahanPermasalahan
Daun sirsak merupakan bagian dari tanaman sirsak yang paling sering digunakan sebagai obat. Sejak dahulu, masyarakat di daerah Kalimantan sering menggunakannya untuk mengobati demam. Di Madagaskar, daun sirsak digunakan untuk mengobati penyakit lever. Beberapa tahun belakangan ini, ekstrak daun sirsak semakin banyak dipakai untuk menghambat pertumbuhan kanker. Daun sirsak bersifat netral sehingga sesuai untuk mengatasi berbagai jenis kanker. Daun sirsak tidak hanya baik dikonsumsi oleh para pasien saja, tetapi juga bagi orang yang  sehat arena diyakini dapat menambah kekebalan tubuh.
Daun sirsak dapat dimanfaatkan untuk membuat glukosa, sehingga memiliki nilai tambah untuk dikonsumsi. Glukosa yang dihasilkan dari daun sirsak memiliki kandungan acetogenins yang berfungsi sebabai obat kanker dan penyakit lainnya. Penggunaan glukosa sebagai obat merupakan hal baru yang patut diterapkan karena selama ini obat identik dengan bahan kimia yang rasanya pahit.
Pembuatan glukosa dari daun sirsak dilakukan dengan proses hirolisis. Proses hidrolisis tidak akan maksimal jika kandungan lignin dalam daun sirsak masih tinggi. Untuk itu perlu dilakukan pretreatment yaitu delignifikasi. Dengan mencampur serbuk daun sirsak dalam larutan NaOH 1%, lignin akan terlarut sehingga dalam proses hidrolisis akan maksimal.
Proses hidrolisis dilakukan secara enzimatis karena proses ini terbilang proses yang aman. Proses ini dilakukan pada suhu rendah dan tanpa penambahan asam kuat. Enzim yang digunakan dalam proses ini adalah enzim selulase yang berfungsi sebagai katalis untuk memecah selulosa menjadi glukosa. Enzim bersifat spesifik sehingga dalam proses, kandungan acetogenins sebagai obat kanker tidak berubah karena enzim hanya bekerja pada selulosa.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Daun sirsak mengandung zat anti kanker yang disebut annonaceous acetogenin. Zat tersebut dapat membunuh sel-sel kanker tanpa mengganggu sel-sel dalam tubuh manusia.Kanker menjadi momok banyak orang di seluruh dunia hingga kini. Saat banyak penelitian dilakukan untuk menemukan obat kanker terbaik. Tetapi pengobatan yang hanya dilakukan secara medis dengan bantuan obat kimia menghabiskan biaya cukup besar.
Alternatif penanganan daun sirsak yang dapat meningkatkan nilai tambah dan bernilai ekonomis yaitu dengan mengolahnya menjadi glukosa. Glukosa merupakan suatu gulamonosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan.Jadi diharapkan dengan adanya glukosa dari ekstrak daun sirsak dapat memberikan pengobatan alternatif alami tanpa efek samping seperti obat kimia pada umumnya. Selain itu obat tersebut juga memiliki rasa manis tak seperti obat pada umumnya.
 
Saran
Pemanfaatan pembuatan daun sirsak menjadi glukosa yang dapat menjadi obat kanker ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Mengingat di dunia 12% seluruh kematian disebabkan oleh kanker dan  pembunuh  nomor 2 setelah penyakit kardio vaskular. WHO dan Bank Dunia, 2005 memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker padata hun 2030. Selain itu perlu dipikirkan solusi lain untuk memanfaatkan daun sirsak yang lebih efektif dan efisien.
Ternyata, dari daun satu macam tanaman terkandung manfaat luar biasa untuk pengobatan yang kalau dilakukanmurni secara medis dengan bantuan obat kimia menghabiskan biaya cukup besar oleh sebab itu gagasan ini memberi solusi pemanfaatan daun sirsak dapat bermanfaat bagi ikhtiar dalam mencari kesembuhan dari penyakit kanker tersebut. Pemanfaatan daun sirsak yang sebelumnya belum maksimal dapat dioptimalkan dan berguna bagi manusia.
 


DAFTAR PUSTAKA

Adijaya, Dian. Ampuhnya SebatangZuurzak.Trubus.Januari. 2011
Thomas, A.N.S.,. 1994. Tanaman Obat Tradisonal 2. Kanisius. Yogyakarta.
Mulyadi. 1996. Kanker. PT Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta.
Bhat,  M.K.,  and  Bhat,  S.  (1997),  Cellulose  Degrading  Enzymes  And  Their  Potential  Industrial Applications, Biotechnology Advances, Vol. 15, Nos. 3/4, 583-620.
Busto,  M.D.,  N.  Ortega  &  M.  P.  Mateos  (1996),  Location,  Kinetic  and  Stability  of  Cellulases Induced in Trichoderma reesei Cultures, Bioresource Technology, 57, 187-192
Cahyana, Destika, dkk. (siapa saja sebutkan) Dari Garut Menggunacang Dunia. Trubus. Januari. 2011
Chen, S. and M. Wayman (1992), Novel Inducers Derived from Starch for Cellulase Production by Trichoderma reesei, Process Biochemistry 27, 327-334
Dahot,  M.U.,  dan  M.H.  Noomrio  (1996),  Microbial  Production  of  Cellulases  by  Aspergillus Fumigatus Using Wheat Straw as A Carbon Source, Journal of Islamic Academy of Sciences 9, 4, 119-124.
Daigle,D.J. & Cotty, P.J . 1998.Formulating atoxigenic Aspergillus avus for  eldrelease. Biocontrol Scienceand Technology 5 , 175 ±184 .
Dewi (2002), Hidrolisis Limbah Hasil Pertanian Secara Enzimatik, Akta Agrosia, Vol. 5,    No. 2, 67 – 71.
Groggins, P.H., 1958, Unit Proses in Organic Synthetis, Fifth edition, Mc Graw Hill, Kogakasha
Hairong Xiong, 2004, Production and Characterization of  Trichoderma reesei andThermomyces Lanuginosus Xylanases; Lib.tkk.ti/Diss/2004/isbn9512273187/isbn 9512273187
Hao, X.C., X.B. Yu   and  Zhong-Li  Yan (2006), Optimization of the Medium  for the Production of Cellulase by the Mutant Trichoderma reesei WX-112 using Response Surface Methodology, Food Technol. Biotechnol.44,89-94.
Liu,  J.  and J.  Yang  (2007),  Cellulase  Production  by  Trichoderma  koningii  AS3.4262  in  Solid-State Fermentation  Using  Lignocellulosic  Waste  from  the  Vinegar  Industry,  Food  Technol. Biotechnol. 45 (4) 420–425.
Milala,  M.A.,  A.  Shugaba,  A.  1  1  1A.  Gidado,  2A.C.  Ene  and  1J.A.  Wafar  (2005),  Studies  on  the Use of Agricultural Wastes forCellulase Enzyme Production by Aspegillus niger, Research Journal of Agriculture and Biological Sciences 1(4): 325-328.
Mulyaman, S., Cahyaniati.,  T. Mustofa. (2000).  Pengenalan Pestisida Nabati Tanaman Holtikultura. Direktorat Jenderal  Produksi Holtikultura  dan  Aneka Tanaman. Institut Pertanian Bogor.
Muthuvelayudham, R. and T. Viruthagiri (2006), Fermentative Production and Kinetics of Cellulase Protein on Trichoderma reesei Using Sugarcane Bagasse and Rice Straw, African Journal of Biotechnology Vol. 5 (20), 16 October, pp. 1873-1881.
Sarkar, Ajoy. K, Etters, J. Nolan, 2004; Enzymatic Hydrolysis of Cotton Fiber: Modeling Using Empirical Equation;  The Journal of Cotton Science 8: 254-260
Sarker, Satyajid D, and Lutfun Nahar, 2007, Chemistry for pharmacy students: general, organic, and natural product chemistry, John Willey and Sons, Chichester.
Taherzadeh,  M.J.  dan  Karimi,  K.,  Acid-based  hydrolysis  processes  for  ethanol  from lignocellulosic materials: a review, 2007, Bioresources 2(3), pp. 472-499.

1 komentar: