Translate

Senin, 06 Mei 2013

PEMBUATAN YOGHURT


PRAKTIKUM BAHAN ALAM
“PEMBUATAN YOGHURT”



Disusun oleh:
1.     Indah Kusumadewi               D500 080 021
2.     Tri Utami                                D500 080 034



LABORATORIUM TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
I.       TUJUAN PERCOBAAN
1.      Membekali mahasiswa keterampilan membuat plain yoghurt.
2.      Mengamati perubahan struktur yang terjadi selama proses fermentasi berlangsung.

II.    TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi Yoghurt
Yoghurt merupakan salah satu olahan susu yang diproses melalui proses fermentasi dengan penambahan kultur organisme yang baik (Rocha, 2009). Bakteri tersebut adalah Streptococcus thermopilus dan Lactobacillus bulgaricus (Wahyu, 2009). Pada umumnya, yoghurt dianggap sebagai semacam makanan kesehatan yang tinggi protein, rendah lemak dan kaya vitamin (Eltean, 2011).
Kata yoghurt berasal dari bahasa Turki yang artinya padat dan tebal. Penelitian modern membuktikan yoghurt diteliti mengandung probiotik atau bakteri bermanfaat salah satunya Lactobacillus bulgaricus, sehingga ada juga yang menduga bahwa yoghurt diciptakan pertama kali di Bulgaria (Anonim, 2010).
Yoghurt sejak dulu digemari di Eropa dan Amerika. Masyarakat Belanda merupakan konsumen yoghurt tertinggi di dunia, kemudian disusul oleh Swiss, Prancis, Jepang dan negara-negara lainnya.  Masyarakat Eropa, Timur Tengah, dan Jepang lebih menyukai yoghurt dengan kandungan mikroba hidup (Everlasting, 2010).

II.2 Pembuatan Yoghurt
Pada umumnya dibuat dari susu segar, susu ini dapat berupa susu cair langsung tetapi yang perlu diperhatikan susu yang digunakan harus susu putih (Rocha, 2009). Yoghurt juga dapat dibuat dari susu skim (susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu bergantung pada kekentalan produk yang diinginkan. Selain dari susu hewani, belakangan ini yoghurt juga dapat dibuat dari campuran susu skim dengan susu nabati (susu kacang-kacangan).
Prinsip pembuatan yoghurt adalah fermentasi, proses ini sangat lambat dan tidak terduga karena tergantung bakteri yang melekat di dalam susu (Julene, 2011). Bakteri tersebut akan menguraikan laktosa (gula susu) menjadi asam laktat dan berbagai komponen aroma dan citarasa. Lactobacillus bulgaricus lebih berperan pada pembentukan aroma, sedangkan Streptococcus thermophilus lebih berperan pada pembentukan cita rasa yoghurt (Everlasting, 2010).
Fermentasi dimulai ketika aktifitas dari bakteri Streptococcus thermopilus merubah laktosa (gula susu) menjadi asam laktat dan menurunkan keasaman susu hingga 5-5,5. Pada saat itu juga kecenderungan untuk terjadinya reaksi-reaksi kimia yang dapat merugikan pada produk akhir mulai dihambat. Bakteri Lactobacillus bulgaricus mulai beraktifitas mensekresikan enzimnya untuk menurunkan keasaman hingga 3,8-4,4 dan menciptakan cita rasa khas yoghurt setelah keasaman mencapai 5-5,5 (Wahyu, 2009).
Cita rasa khas yoghurt ditentukan dari terbentuknya asam laktat, asetaldehid, asam asetat dan asetil. Keberadaan ke dua bakteri tersebut sangat penting. Bakteri Streptococcus thermopilus membatu menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik bagi bakteri Lactobacillus bulgaricus untuk menghasilkan enzimnya. Sementara itu bakteri Lactobacillus bulgaricus menghasilkan asetaldehid sehingga cita rasa yang khas pada yoghurt dapat tercapai (Wahyu, 2009).
Berdasarkan tingkat taksonominya bakteri yang terlibat pada pembuatan yoghurt termasuk dalam (Wahyu, 2009):







Tabel 1. Klasifikasi Bakteri dalam Pembuatan Yoghurt


Lactobacillus bulgaricus
Streptococcus thermopilus
Kingdom
Prokariotik
Prokariotik
Diviso
Schizophyta
Schizophyta
Kelas
Eubacteriales
Eubacteriales
Familia
Lactobacillaceae

Genus
Lactobacillus
Eubacteriales
Spesies
Lactobacillus bulgaricus
Streptococcus thermopilus

Kerja bakteri saling melengkapi antara bakteri Lactobacillus bulgaricus dengan Streptococcus thermopilus. Perbadingan yang baik antara ke dua bakteri ini sehingga menghasilkan yoghurt yang baik adalah 1:1. Apabila pembuatan yoghurt hanya menggunakan satu jenis bakteri saja, maka jika hanya Streptococcus thermopilus saja, keasaman dan cita rasa yang dihasilkan tidak maksimal karena tidak dihasilkan asetaldehid serta keasaman yang dihasilkan sekitar 5-5,5. Begitu juga apabila hanya menggunakan Lactobacillus bulgaricus saja akibatnya enzim yang dihasilkannya untuk membentuk asetaldehid akan terganggu karena kondisi lingkungan yang terbentuk kurang baik. Oleh karena itu hubungan simbiotik antara kedua bakteri ini sangat penting agar dihasilkan yoghurt dengan kualitas yang baik (Wahyu, 2009).

II.4 Macam Macam Yoghurt
Macam-macam yoghurt dapat dibedakan menjadi (Everlasting, 2010):
1.      Yoghurt pasteurisasi, yaitu yoghurt yang setelah masa inkubasi selesai dipasteurisasi untuk mematikan bakteri dan memperpanjang umur simpannya
2.      Yoghurt beku, yaitu yoghurt yang disimpan pada suhu beku
3.      Dietetic yoghurt, yaitu yoghurt rendah kalori, rendah laktosa, atau yang ditambah vitamin dan protein
4.      Yoghurt konsentrat, yaitu yoghurt dengan total padatan sekira 24%
5.      Berdasarkan kadar lemaknya, yoghurt dapat dibedakan atas yoghurt berlemak penuh (kadar lemak lebih dari 3%), yoghurt setengah berlemak (kadar lemak 0,5-3,0%), dan yoghurt berlemak rendah (lemak kurang dari 0,5%). Perbedaan kadar lemak tersebut berdasarkan jenis susu dan campuran bahan yang digunakan dalam pembuatannya.

II.5 Manfaat Yoghurt
Mengkonsumsi yoghurt memberikan banyak manfaat, antara lain (Anonim,2010):
1.      Membersihkan usus
           Bakteri asam laktat yang terdapat dalam yoghurt di usus besar mampu menyerap zat mutagenik dari makanan, sehingga secara tak langsung dapat membersihkan usus. Dengan minum atau makan yoghurt secara teratur dapat membantu mencegah kanker usus. Apalagi yoghurt juga menghasilkan zat-zat yang diperlukan oleh hati sehingga berguna untuk pencegahan penyakit kanker. Selain itu, bakteri Lactobacillus bulgaricus juga memiliki efek antitumor dan dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap tumor.
2.      Sebagai antibiotik
            Ada zat bermanfaat yang dihasilkan oleh bakteri Lactobacillus bulgaricus, disebut bulgarikan. Zat ini berfungsi sebagai antibiotik spesifik yang hanya membersihkan mikroorganisme yang merugikan saja. Bakteri negatif yang dihambat antara lain Staphylococcus aureus, Shigella dysentriae (penyebab disentri), Salmonella typhii (penyebab tipus), Clostridium botulinum (penyebab botulinum, yaitu keracunan makanan kaleng), juga mencegah sembelit. Umumnya setelah menjalani pengobatan dengan antibiotik, dokter menganjurkan pasien minum yoghurt. Tujuannya untuk memulihkan keseimbangan mikroflora usus.
3.      Menurunkan kolesterol
           Yoghurt terbukti mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah karena di dalamnya terkandung zat antikolesterol yang mampu menghambat kerja enzim pembentuk kolesterol. Ditambah lagi kolesterol yang terbentuk juga diserap oleh pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus dan bakteri Bifidobakterium bifidum. Penyerapan ini terjadi di usus kecil dan membantu mengurangi kolesterol dalam darah.
4.      Masker
           Sejak berabad silam wanita Persia menggunakan yoghurt untuk masker yang bermanfaat mengurangi dan menghilangkan keriput. Sampai saat ini pun manfaat ini masih bisa dirasakan.
5.      Nutrisi  untuk diet
           Kandungan gizi yoghurt sangat tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan susu segar. Dalam yoghurt terkandung kalori, protein, karbohidrat, kalsium dan potasium lebih tinggi dibandingkan susu segar, tetapi kandungan lemaknya lebih rendah, sehingga cocok bagi mereka yang sedang menjalankan program diet.




















II.6 Standar Mutu Yoghurt
            Menurut Anonimous (1992), syarat mutu yoghurt berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2981-1992, adalah sebagai berikut (Sumardikan, 2007):
Tabel 2. Syarat Mutu Yoghurt (SNI 01-2981-1992)
No.
Kriteria Uji
Spesifikasi
1.
Keadaan
- Penampakan
- Bau
- Rasa
- Konsentrasi
-Cairan kental sampai   semi padat
- Normal/khas
- Asam/khas
- Homogen
2.
Lemak : % ; b/b
Maks. 3,8
3.
Bahan Kering Tanpa Lemak : %
; b/b
Maks. 8,2
4.
Protein: % ; b/b
Min. 3,5
5.
Abu
Maks. 1.0
6.
Jumlah asam (sebagai laktat) : %
; b/b
0,5 – 2,0
7.
Cemaran logam
- Timbal (Pb): mg/kg
- Tembaga (Cu) : mg/kg
 - Seng (Zn) : mg/kg
- Timah (Sn) : mg/kg
 - Raksa (Hg) : mg/kg
- Arsen (As) : mg/kg

Maks.0,3
Maks. 20
Maks. 40
Maks. 40
Maks. 0,03
Maks. 0,1
8.
Cemaran mikroba
- Bakteri coliform
- E.coli ; APM/g
- Salmonella
Maks. 10
< 3
Negatif / 100 gram






III. ALAT DAN BAHAN
III.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan pembuatan yoghurt :
1.      Inkubator (jika tidak tersedia maka digunakan waterbath)
2.      Panci stainless ukuran 1 L sebanyak 2 buah
3.      Wadah kaca
4.      Pengaduk
5.      Masker
6.      Neraca analitik
7.      Buret mikro
8.      Erlenmeyer 250 mL
9.      Kantong plastik bening

III.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan pembuatan yoghurt :
1.      Susu sapi murni 2 L (jika tidak ada bisa digunakan susu bubuk putih atau susu cair yang bukan susu UHT).
2.      Susu krim 250 gram
3.      Starter yoghurt atau plain yoghurt
4.      Perasa tambahan (gula, jus buah-buahan)
5.      Larutan NaOH 0,1 N standar
6.      Indikator fenolftalein (PP) 1%









III.3. Gambar Alat



3
1
2



Keterangan :
1.      Buret
2.      Erlenmeyer
3.      Statif


Gambar 1. Rangkaian Alat Titrasi Penentuan Asam Laktat



IV. CARA KERJA
IV.1 Pembuatan yoghurt
1.      Mengenakan masker dan menghindari bicara berlebihan selama proses pembuatan yoghurt untuk meminimalkan terjadinya kontaminasi
2.      Merebus semua peralatan yang hendak digunakan
3.      Menyiapkan 1 L susu sapi atau susu bubuk yang sudah dicairkan dengan air matang
4.      Menambahkan susu krim sebanyak 15%
5.      Memasak dengan api kecil sambil diaduk terus selama 30 menit tetapi jangan sampai mendidih
6.      Diangkat dan didinginkan kira-kira sampai 40oC
7.      Memasukkan starter sebanyak 2-5% dari jumlah susu
8.      Inkubasi : mendiamkan selama 24 jam dalam wadah tertutup untuk menghasilkan rasa asam dan bentuk yang kental
9.      Yoghurt yang sudah jadi akan bertekstur bergumpal-gumpal. Jika tekstur tidak terbentuk atau timbul perubahan warna dan bau maka proses inkubasi gagal dan harus diulangi
10.  Penyimpanan yoghurt tidak boleh terkena sinar matahari. Tidak boleh ditaruh dalam suhu ruangan, harus disimpan dalam suhu dingin/kulkas tetapi juga tidak boleh diletakkan dalam freezer. Penyimpanan dalam freezer akan mengakibatkan bahan dasar yoghurt yang berupa susu dapat pecah sehingga merusak yoghurt
IV.2 Analisis kadar asam
1.      Mengambil sampel setelah fermentasi 2, 3, 4, 5, dan 24 jam, masing-masing 20 mL
2.      Menimbang sebanyak 20 gram contoh (pipet 20 mL contoh) (W) lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer
3.      Dilarutkan dalam aquades sebanyak 2 kali volume
4.      Menambahkan 2 mL indicator PP dan dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai terbentuk warna merah muda

V.    HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Salah satu tujuan dari percobaan ini yaitu membekali mahasiswa keterampilan membuat plain yoghurt. Yoghurt yang dibuat pada percobaan ini yaitu jenis set yoghurt, Untuk jenis set yoghurt, susu yang telah diinokulasi dengan starter, dimasukkan ke dalam gelas-gelas yang telah direndam dalam air panas. Menurut Rahman et al. (1992), set yoghurt adalah produk di mana pada waktu inkubasi atau fermentasi susu ditempatkan dalam kemasan kecil sehingga karakteristik koagulumnya tidak berubah (Wahyudi, 2006).
Sebelum diinkubasi, pemanasan susu harus dilakukan pada tahapan pembuatan yoghurt yang bertujuan mematikan organisme pencemar, menghilangkan O2 sehingga memacu pertumbuhan bakteri asam laktat, memecah beberapa zat dan memacu perubahan kimiawi yang menghasilkan faktor-faktor untuk Lactobacilli, misalnya senyawa sulfhidril, mengendapkan albumin dan globulin yang kemudian bergabung dengan kasein sehingga akan menambah kandungan protein. Perlakuan ini juga akan menambah bahan kering dan meningkatkan kekentalan yoghurt.
Setelah susu dipanaskan langkah selanjutnya inkubasi, inkubasi bertujuan memberikan kondisi yang sesuai untuk aktivitas bakteri, baik itu pH maupun suhu reaksi. Menurut Winarno (1992), jika pH turun menjadi 4,6 atau lebih rendah, maka protein akan terdenaturasi yaitu terjadi perubahan terhadap struktur molekul protein sedemikian rupa sehingga protein menggumpal (terkoagulasi) membentuk gel yoghurt. Selama inkubasi akan timbul senyawa-senyawa asam laktat, asetaldehida, diasetil, asam asetat dan senyawa-senyawa yang mudah menguap yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri starter. Senyawa-senyawa tersebut akan memberikan cita rasa spesifik pada yoghurt (Kersani, 2011).
Pada proses inkubasi digunakan kombinasi Lactobacillus bulgaricus dengan Streptococcus thermophillus, dimana kedua bakteri tersebut memberikan pertumbuhan yang lebih baik, hal ini dikarenakan selama masa inkubasi, starter yoghurt memberikan nutrien yang berfungsi sebagai stimulator untuk pertumbuhan kedua bakteri. Menurut Arlistya (2008), starter kombinasi merupakan starter yang paling efektif untuk fermentasi yoghurt ditinjau dari hasil parameter-parameter kinetika fermentasi yang diperoleh. Penggunaan starter bakteri asam laktat pada level 3% lebih dianjurkan dalam pembuatan yoghurt (Prasetyo,2010).
Proses inkubasi merupakan proses yang sangat penting karena dalam tahapan inilah terjadi proses fermentasi dalam susu oleh bakteri. Dalam proses pembuatan yoghurt memerlukan suhu yang hangat. Tidak saja hangat tapi suhu ini perlu dijaga agar konstan, tidak naik atau turun terlalu ekstrim selama proses inkubasi berlangsung. Naik turunnya suhu dengan cukup ekstrim dapat mengakibatkan proses fermentasi terganggu dan yoghurt gagal terbentuk (Rahma, 2009).
Proses fermentasi merupakan kunci keberhasilan dari produksi yoghurt karena karakteristik produk akhir terbentuk selama proses fermentasi berlangsung. Pada umumnya fermentasi dilakukan pada suhu 40°-45°C selama 2,5 - 3 jam. Namun, suhu dan waktu fermentasi bisa berubah tergantung pada jenis bakteri pada kultur starter yang digunakan. Lama fermentasi dapat memakan waktu hingga 5-20 jam tergantung dari kekuatan starter. Pada proses fermentasi akan terjadi hidrolisis enzimatis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Selanjutnya glukosa akan diuraikan melalui beberapa tahap dekomposisi sehingga menghasilkan asam laktat. Pada tahap ini belum terjadi perubahan struktur fisik yang nyata pada susu, disebut prefermentasi. Galaktosa tidak akan digunakan selama glukosa dan laktosa masih tersedia untuk fermentasi. Oleh karena itu pada produk yoghurt masih terdapat residu galaktosa dan laktosa. Setelah terjadi penurunan pH maka gel mulai terbentuk secara bertahap sampai mencapai titik isoelektrik pada pH 4,65. Proses ini disebut fermentasi utama. Pembentukan gel diikuti dengan perubahan viskositas. Pada tahap ini juga dihasilkan flavor (Rahma, 2009).
Dalam proses fermentasi sering terjadi kegagalan antara lain disebabkan karena suhu inkubasi yang terlalau rendah. Suhu inkubasi yang rendah (suhu ruang) mengakibatkan laju sintesis asam yang lambat (lebih dari 18 jam) sedangkan inkubasi pada suhu optimum 40o-45oC hanya memerlukan 2.5-3 jam. Dampak negatif dari laju pembentukan asam yang lambat ini dapat berupa antara lain sineresis serum susu (whey) yang menyebabkan kualitas yoghurt tidak begitu baik dan kandungan asam laktat yang dihasilkan selama fase fermentasi tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengendalian suhu yang tepat selama proses inkubasi. Selain suhu dan waktu inkubasi, perlu diperhatikan pula masalah kebersihan pada saat proses fermentasi (Rahma, 2009).


Gambar 2. Hubungan antara waktu Fermentasi dengan Kadar Asam laktat

Lactobacillus bulgaricus lebih berperan dalam pembentukan aroma, sedangkan Streptococcus thermophillus lebih berperan dalam pembentukan cita rasa. Rasa asam berasal dari Lactobacillus bulgaricus sebagai bakteri asam laktat yang mampu mengubah laktosa menjadi asam laktat. Menurut Winarno (1991), rasa asam disebabkan oleh donor proton, intensitas rasa asam tergantung pada ion H+ yang dihasilkan oleh hidrolisis asam. Atherton and Newlander (1981), menyatakan bahwa penentuan tingkat keasaman yogurt dilakukan dengan cara titrasi menggunakan larutan alkali NaOH 0,1 N (Sumardikan, 2007).
Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa kadar asam semakin meningkat dengan bertambah lamanya waktu fermentasi. Fermantasi akan menurunkan pH yoghurt dengan rasa asam yang khas. Selama proses fermentasi, laktosa susu diubah menjadi asam laktat ± 30% sedangkan sisanya masih dalam bentuk laktosa (Rahayu, 1989). Pada saat fermentasi berlangsung selama 2, 3, 4, 5 jam kadar asam berturut-turut sebesar 0,18; 0,189; 0,1935; 0,198 %. Untuk kadar asam tertinggi diperoleh pada waktu 24 jam sebesar 0,8316 %. Kadar asam pada waktu 2-5 jam tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia yang menyatakan bahwa kadar asam pada yoghurt berkisar 0,5-2 % (Sumardikan, 2007). Hal ini disebabkan pada waktu 2-5 jam, laktosa belum terkonversi sepenuhnya menjadi asam laktat. Penelitian terdahulu yang dilakukan Kehagias et al, (1984), memberikan hasil kadar asam laktat mencapai 1,16%, Toba et al (1982)
menambahkan bahwa keasaman susu yang difermentasi dengan bakteri asam laktat dapatmeningkat hingga 1,26%. Perbedaan hasil dengan percobaan ini dikarenakan titrasi keasaman pada masing-masing penelitian tergantung pada suhu inkubasi, lama inkubasi, dan jumlah starter yang diinokulasi (Albaarri dan, Murti, 2010). Hasil penelitian yang lain, yang dilakukan oleh Wibawa dan Herawati (2011), dinyatakan pada tabel 3.
Tabel 3. Kadar Asam Laktat
Konsentrasi
Susu Skim
 ( %)
Kadar Total Asam Laktat ( % )
0 jam
2 jam
4 jam
6 jam
5
0,078
0,239
0,751
0,774
10
0,085
0,303
0,784
0,823
15
0,100
0,378
0,835
0,962
20
0,112
0,485
0,882
1,075

Menurut Hadiwiyoto (1983), keasaman yang tinggi menunjukkan bahwa telah banyak laktosa yang diubah menjadi asam laktat. Tinggi rendahnya kadar asam laktat dalam produk susu fermentasi dipengaruhi oleh kemampuan starter dalam membentuk asam laktat yang digunakan, bisa pula ditentukan oleh jumlah dan jenis starter yang digunakan. Anonimus (2006), menyatakan bahwa jenis dan jumlah mikroorganisme dalam starter yang digunakan sangat berperan dalam pembentukan tekstur dan rasa yoghurt (Prasetyo,2010). Menurut Bourne (1982), tekstur adalah tanggapan indera perasa terhadap stimulasi fisik yang disebabkan oleh kontak antara udara perasa dengan makanan.Tekstur yang bagus ditunjukkan oleh kelembutan dan rasanya dimulut. Menurut Beal et al., (1998), tekstur pada yoghurt merupakan hasil agregasi kedua asam pada misel kasein dan produksi eksopolisakarida oleh bakteri asam laktat. Asam yang diproduksi selama proses fermentasi menyebabkan kasein mengalami pengumpalan dan tekstur akan menjadi padat (Sumardikan, 2007).


.
.


















VI. KESIMPULAN
Dari percobaan pembuatan yoghurt dapat diambil kesimpulan, yaitu:
1.      Pembuatan yoghurt dalam percobaan ini adalah jenis set yoghurt. Untuk jenis set yoghurt, susu yang telah diinokulasi dengan starter, dimasukkan ke dalam gelas-gelas yang telah direndam dalam air panas, ukemudian diinkubasi dengan kondisi operasi yang sesuai.
2.      Penentuan kadar asam laktat dilakukan dengan titrasi menggunakan NaOH 0,1 N. Hasil titrasi menunjukkan semakin lama waktu fermentasi maka kadar asam laktat semakin meningkat.






















VII. DAFTAR PUSTAKA

Albaarri, A.N., Murtit.W.,  2010, Analisa pH, Keasaman, dan Kadar Laktosa Pada Yakult, Yogurt, Kefir, http:// analisispengujianmutupangan. blogspot. com/2010/11/analisa-pH-keasaman-dan-kadar-laktosa.html.
Anonim, 2010, Manfaat Yoghurt, http://www.enformasi.com/2010/04/manfaat yoghurt.html.
Eltean, 2011, Yoghurt a Medicine, http:// translate.google.co.id/ translate?Hl=Id& Sl= En&U, http://www.eltean.com/yoghurt.html.

Everlasting, 2010, Yoghurt, http:// lelydegranny. student.umm.ac. id/2010/06/04/ yogurt/.

Herawati, D.A., Wibawa, D.A.A., 2011, Skim dan Waktu Fermentasi Terhadap Hasil Pembuatan Soyghurt ,  Jurnal  Ilmiah  Teknik  Lingkungan  Vol.1  No.  2.
Julene, 2011, http:// translate. google.co.id/translate?Hl=Id&Sl= En&U=http:// www.leaflady. org/yoghurt.
Kersani, 2011,Yoghurt, THL TBPP, Desa Cijambu, Kec.Tanjungsari, Kab.Sumedang, http://cepikersani.blogspot.com/2011/04/yoghurt.html.
Prasetyo, Heru, 2010, Pengaruh Penggunaan Starter Yoghurt pada Level Tertentu Terhadap Karakteristik Yoghurt yang Dihasilkan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Rahayu, 1989, Pengaruh Penggunaan Starter Yoghurt pada Level Tertentu Terhadap Kadar Asam, Universitas Negeri Surakarta.
Rahma, 2009, Aspek Mutu dalam Pembuatan Yoghurt, http://rahma alchemist.blogspot.com/2009/11/aspek-mutu-dalam-pembuatan yoghurt.html.
Rocha, 2009, Cara Membuat Yogurt yang Baik dan Benar, http:// R0ch4.wordpress. com/2009/ 03/03/cara-membuat-yoghurt-yang-baik-dan-benar.
Sumardikan, Hari, 2007, Penggunaan Carboxymethylcellulose (CMC) Terhadap pH, Keasaman, Viskositas, Sineresis dan Mutu Organoleptik Yoghurt Set, Teknologi Hasil Ternak, Jurusan Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang.
Wahyudi, 2006, Proses Pembuatan dan Analisis Mutu Yoghurt, Buletin Teknik Pertanian, Vol. 11. No. 1.































VIII.       LAMPIRAN

Tabel 4. Hasil Titrasi Sampel dengan NaOH

No
Waktu fermentasi (jam)
Volume sampel (mL)
Volume NaOH 0,1 N (mL)
1.
2
20
4
2.
3
20
4,2
3.
4
20
4,3
4.
5
20
4,4
5.
24
20
18,48

a.       Menghitung Volume NaOH 0,01 N

V1.N1               = V2.N2
4 mL. 0,1 N     = V2. 0,01 N
V2                    = 40 mL

b.      Menghitung Kadar Asam

% kadar asam =  x 100%

                       =   x 100%

                       = 0,18 %





Untuk perhitungan yang lain dapat dinyatakan pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Perhitungan Kadar Asam Laktat untuk Berbagai Waktu Berbagai Waktu Fermentasi
No.
Waktu fermentasi (jam)
Volume sampel (mL)
Volume NaOH 0,1 N (mL)
Volume NaOH 0,01 N (mL)
Kadar asam laktat (%)

2
20
4
40
0,180

3
20
4,2
42
0,189

4
20
4,3
43
0,1935

5
20
4,4
44
0,198

24
20
18,48
184,8
0,8316



Gambar 3. Hubungan antara Waktu Fermentasi dengan Kadar Asam Laktat






Gambar 3. Bahan yang Digunakan pada Pembuatan Yoghurt
 
Gambar 4. Hasil Titrasi Penentuan Kadar Asam Laktat
LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM BAHAN ALAM
LABORATURIUM TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

I         Judul Percobaan                : Pembuatan Yoghurt
Hari, Tanggal Percobaan   : Senin,  25 Mei 2011
Asisten Pembimbing         : Dwi Megawati
Anggota Kelompok          : 1. Indah Kusumadewi          D 500 080 021
                                            2. Tri Utami                           D 500 080 034
II      Data Percobaan
Tabel 1. Hasil Titrasi Penentuan Asam Laktat
No
Waktu fermentasi (jam)
Volume sampel (mL)
Volume NaOH 0,1 N (mL)
1.
2
20
4
2.
3
20
4,2
3.
4
20
4,3
4.
5
20
4,4
5.
24
20
18,48

                                                                                    Surakarta, 16 Mei 2011
Asisten                                                                              Praktikan


          Dwi Megawati                                                           1. Indah Kusumadewi
2. Tri Utami

Mengetahui,
Laboran


Setyawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar